Makassar Bergejolak, Kantor DPRD Habis Terbakar, 3 Tewas



Makassar tiba-tiba berduka. Malam itu, Jumat, 29 Agustus. Api melalap Gedung DPRD. Massa yang marah, aparat yang kewalahan, dan gedung tua itu yang akhirnya menyerah.


Tapi kisah paling pahit bukan pada bangunan yang terbakar. Melainkan pada orang-orang yang terjebak di dalamnya.


Syaiful, Kepala Seksi Kesra Kecamatan Ujung Tanah. Malam itu ia hadir bukan sebagai demonstran. Bukan pula sebagai aparat. Ia hanya ASN biasa yang disuruh mewakili camatnya dalam rapat paripurna.


Siapa sangka, tugas “biasa” itu menjadi tugas terakhirnya. Ketika api mengepung, ia memilih jalan satu-satunya: melompat dari lantai empat. Tubuhnya terbentur keras. Nyawanya tidak tertolong.


Budi. Anggota Satpol PP. Tugasnya sederhana: berjaga. Menjaga gedung dewan yang kerap jadi sasaran amarah massa.


Tapi malam itu, tugasnya berubah jadi malapetaka. Ia ikut terjebak di dalam. Ketika pintu-pintu terkunci api, tidak ada pilihan lain. Ia ditemukan tak bernyawa.


Dan satu lagi: Abay. Nama lengkapnya panjang. Tapi semua orang di DPRD memanggilnya begitu. Abay adalah staf humas, fotografer. Tangannya biasa memegang kamera, bukan alat perlawanan.Ia ikut jadi korban. Tidak melompat. Tidak sempat keluar. Asap pekat membuatnya tidak bisa lagi bernapas.


Tiga nyawa. Tiga cerita. Tiga keluarga berduka.


Gedung DPRD memang terbakar. Tapi lebih dari itu: kota ini kehilangan manusia.


Saya membayangkan, Syaiful pagi itu mungkin sarapan buru-buru. Pamitan ke istri, mungkin sambil bilang: “Sebentar ya, saya rapat di DPRD.” Sapa sangka, itu pamit terakhir.


Atau Budi. Anggota Satpol PP yang gajinya tidak besar. Mungkin tadi pagi sempat bercanda dengan anaknya: “Nanti ayah pulang bawa makanan.”


Dan Abay. Anak muda yang pekerjaannya memotret rapat, dokumentasi, press release. Mungkin di ponselnya masih tersisa foto-foto terakhir sebelum api melahap.


Saya jadi teringat sesuatu. Gedung-gedung pemerintahan di negeri ini sering kali jadi simbol amarah rakyat. Dibakar, dirusak, dilempari. Tapi jarang kita bertanya: siapa yang ada di dalam gedung itu?


Kadang mereka hanyalah pegawai biasa. ASN yang datang karena tugas. Satpol PP yang gajinya pas-pasan. Atau staf humas yang pekerjaannya memotret rapat orang lain.


Mereka tidak ikut memutuskan apa-apa. Mereka hanya menjalankan. Tapi ketika massa marah, merekalah yang pertama kali jadi korban.


Tapi semoga kita juga belajar. Bahwa di balik gedung-gedung pemerintahan yang kita bakar, selalu ada manusia di dalamnya. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama