SANGATTA, Prediksi.co.id– Pagi itu halaman Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kutai Timur tampak lebih rapi dari biasanya. Udara masih lembap, matahari baru separuh muncul, tapi barisan ASN sudah berdiri tegak. Ada keheningan yang tidak biasa—semacam jeda sebelum sebuah pesan penting disampaikan.
Dari kejauhan, Asisten Administrasi Umum Setkab Kutim, Sudirman Latif, melangkah menuju podium. Tidak tergesa. Tidak pula berwibawa berlebihan. Tapi kehadirannya langsung membuat barisan mengencang. Ia jarang turun memimpin apel. Mungkin itu sebabnya pagi itu terasa “lain”.
Begitu mikrofon menyala, Sudirman tidak mulai dengan nada tinggi. Ia justru membuka dengan kalimat yang pelan tetapi tegas: integritas. Kata yang sering disebut, tetapi jarang benar-benar dirasakan getarannya.
“ASN itu fondasinya moral,” katanya. Tanpa metafora. Tanpa pidato yang melambung. Justru kejujuran yang apa adanya membuat semua orang seperti sedang bercermin. Seperti sedang diperiksa tanpa alat.
Sudirman lalu menyebut sembilan nilai yang harus menjadi pegangan: jujur, mandiri, tanggung jawab, berani, adil, peduli, disiplin, kerja keras, dan sederhana. Ia mengucapkannya perlahan, seolah memastikan setiap kata menancap. Tidak ada logo, tidak ada poster besar di belakang sebagai penguat. Hanya suara dan pagi yang masih muda.
Yang menarik, ia tidak menyodorkan sembilan nilai itu sebagai doktrin, melainkan sebagai cara hidup. “Ini bukan slogan,” katanya. Kalimat pendek, tetapi mungkin yang paling penting dalam apel itu.
Barisan ASN diam, tetapi bukan diam yang kosong. Ada yang menunduk sedikit. Ada yang menarik napas panjang. Seolah nilai-nilai itu sedang menagih janji lama—janji yang kadang kalah oleh rutinitas kantor yang keruh dan laporan-laporan yang seakan tak pernah selesai.
Apel pun berakhir tanpa tepuk tangan. Tidak perlu. Kadang pesan yang baik justru bekerja dalam diam—bertahan, lalu perlahan mengubah cara orang melangkah ketika kembali ke meja kerjanya masing-masing
Menurutnya, kejujuran merupakan nilai paling mendasar, karena tanpa kejujuran, pelayanan publik akan kehilangan arah. Sementara kemandirian mencerminkan kemampuan ASN mengelola program yang bermanfaat bagi masyarakat tanpa bergantung penuh pada pihak luar.
Di sisi lain, Sudirman juga menyoroti kinerja DPPKB Kutim yang kini masuk zona hijau penyerapan anggaran. Ia memberikan apresiasi kepada Kepala DPPKB Achmad Junaidi dan seluruh jajarannya atas capaian tersebut.
Namun ia mengingatkan, capaian itu belum akhir dari perjalanan. “Realisasi anggaran harus diselesaikan hingga akhir tahun. Semua perangkat daerah wajib selaras dengan visi-misi Bupati dan Wakil Bupati,” tegasnya.
Apel pagi itu juga diwarnai dengan pembacaan “Prinsip Tata Pemerintahan yang Baik” dan “Budaya Malu” oleh staf bidang penyuluhan. Momen tersebut menjadi simbol refleksi moral bagi ASN Kutim agar bekerja dengan penuh tanggung jawab dan integritas.
Bagi jajaran DPPKB, pesan Sudirman menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada anggaran, tetapi juga karakter dan etos kerja aparatur pemerintah. Apel pun ditutup dengan ajakan agar seluruh pegawai terus menanamkan sembilan nilai tersebut dalam setiap langkah pelayanan publik. (Adv Prokompin Kutim/Sol/Le).

Posting Komentar