DPPKB Dorong Genting, Tamasya, dan Gati di Tengah Keterbatasan SDM

 




SANGATTA, Prediksi.co.id – Inovasi dalam pembangunan keluarga terus digulirkan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur. Melalui Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga, DPPKB meluncurkan serangkaian program unggulan yang dirancang untuk menjawab tantangan mendasar, dengan fokus pada pencegahan stunting dan pengasuhan anak. Program-program tersebut adalah Gerakan Orang Tua Asuh Jaga Stunting (Genting) dan Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya).


“Program prioritas kami tahun ini ada Genting, yaitu Gerakan Orang Tua Asuh Jaga Stunting, kemudian Tamasya, Taman Asuh Sayang Anak, lalu ada Gati atau Gabungan Ayah Teladan Indonesia, serta program Lansia Berdaya,” jelas Anik Saidah dari Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutim, seusai menghadiri rapat dengar pendapat (hearing) bersama Komisi D DPRD Kutai Timur.


Anik menerangkan bahwa setiap program memiliki sasaran dan mekanisme yang spesifik. Program Genting secara khusus difokuskan untuk mendorong keterlibatan dan tanggung jawab dari figur orang tua asuh dalam memantau serta memastikan tumbuh kembang anak agar terhindar dari risiko stunting. 


Sementara itu, program Tamasya dirancang untuk berperan sebagai sebuah wadah edukasi dan pengasuhan yang ramah anak, menciptakan lingkungan yang mendukung bagi perkembangan buah hati.


Namun demikian, di antara antusiasme peluncuran program baru, Anik mengungkapkan sebuah kendala yang dialami pada salah satu program lainnya. Program Lansia Berdaya, yang ditujukan untuk memberdayakan kelompok lanjut usia, hingga saat ini masih belum mendapatkan dukungan anggaran yang jelas. 


“Lansia Berdaya ini sampai sekarang belum ada anggarannya. Program ini sebenarnya adalah ‘sekolah lansia’ untuk membina para lansia agar tetap produktif dan tidak menjadi beban keluarga. Tapi belum terasa sama sekali dukungan anggarannya,” ujarnya, menyatakan kekecewaan atas kondisi tersebut.


Selain persoalan anggaran untuk program lansia, pihak DPPKB juga menyoroti adanya tantangan dalam hal peningkatan kapasitas sumber daya manusia pendukung. Terdapat Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang berjumlah 525 orang yang tersebar di seluruh Kutai Timur, yang merupakan ujung tombak implementasi program di lapangan. 


“Dari 525 orang TPK, baru 75 yang bisa diberikan orientasi tahun ini. Padahal, peran mereka sangat penting dalam mendampingi keluarga di lapangan,” tambah Anik, menggarisbawahi kesenjangan antara kebutuhan riil dan kapasitas yang dapat dipenuhi.

Melalui serangkaian program yang telah dan akan dijalankan tersebut, DPPKB Kutai Timur berharap dapat secara sistematis memperkuat ketahanan keluarga. Target besarnya adalah menekan angka stunting yang masih menjadi perhatian nasional dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara holistik, mencakup semua lapisan usia dari anak-anak hingga lanjut usia. 


Keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmen anggaran dan dukungan sumber daya yang memadai untuk memastikan tidak ada satu pun kelompok yang tertinggal. (Adv/Za/Le).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama