Pemkab Kutim Perketat Pengawasan Realisasi Anggaran

 



SANGATTA, Prediksi.co.id – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tak ingin capaian pembangunan di penghujung tahun 2025 tertinggal. Melalui rapat pimpinan di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, jajaran perangkat daerah dan para camat diminta mempercepat realisasi fisik dan keuangan daerah.


Rapat dipimpin oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Kabupaten Kutim, Noviari Noor, yang menegaskan bahwa waktu tersisa dua bulan menjelang akhir tahun anggaran harus dimanfaatkan secara maksimal. “Target realisasi minimal 75 persen harus tercapai. Jangan tunggu waktu habis,” ujarnya dengan tegas.


Menurut Noviari, percepatan realisasi memerlukan kedisiplinan dan koordinasi antarperangkat daerah. Ia juga mengingatkan batas waktu pengajuan tender proyek melalui Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) jatuh pada 17 Oktober 2025, sedangkan pengadaan langsung maksimal dilakukan hingga 3 November 2025. Semua proses, lanjutnya, wajib melalui Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) agar transparan dan akuntabel.


Dalam rapat tersebut, Kepala Bagian Administrasi Pembangunan, Insan Bowo Asmoro, memaparkan capaian realisasi per 31 Agustus 2025 yang baru menyentuh 43 persen dari target 75 persen. Dari total APBD Murni Rp 11 triliun, realisasi awal hanya 6 persen atau sekitar Rp 686 miliar. Setelah pergeseran anggaran di triwulan kedua, angka tersebut meningkat menjadi Rp 8 triliun dan kini mencapai 43 persen, dengan sisa anggaran sekitar Rp 4,7 triliun.


“Tambahan anggaran dalam APBD Perubahan sebesar Rp 1,5 triliun turut memengaruhi capaian. Total kini mencapai Rp 9,9 triliun,” jelasnya.


Beragam kendala diungkapkan para kepala dinas dan camat, mulai dari lambannya proses administrasi, perubahan RKA, hingga keterbatasan waktu pelaksanaan kegiatan fisik. Namun, Noviari menegaskan tidak ada alasan untuk menunda.


Ia menutup rapat dengan instruksi tegas agar seluruh perangkat daerah memperbaiki rencana kerja anggaran 2025 dengan memperhatikan efektivitas, efisiensi, dan risiko waktu.

“Semua harus berlari, bukan berjalan,” tandasnya. (Adv Prokompin Kutim/Sol/Le).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama