Reorientasi Arah Pembangunan Kutim Dari Tambang ke Agribisnis

 



SAMARINDA, Prediksi.co.id – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) secara tegas mengubah arah pembangunan ekonomi daerah dari yang semula bertumpu pada sumber daya alam tak terbarukan menuju sektor agribisnis yang berorientasi global. Langkah strategis ini menjadi komitmen nyata Bupati Kutim, H Ardiansyah Sulaiman, dalam memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui pertanian, perkebunan, dan peternakan modern.


“Sudah saatnya Kutim keluar dari ketergantungan pada batubara. Kita harus menatap masa depan melalui agribisnis yang terkelola dengan baik dan berorientasi pasar global,” tegas Ardiansyah usai menyaksikan penandatanganan kerja sama penyaluran kredit budidaya pisang kepok grecek antara Bankaltimtara dengan Koperasi Produsen Taruna Bina Mandiri di Gedung Utama Bankaltimtara Samarinda.


Ardiansyah menjelaskan, sejumlah komoditas lokal Kutim memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar internasional. Antara lain pisang kepok grecek dari Kaliorang, nenas madu Batu Ampar, cokelat Karangan, karet dan lada Long Mesangat, serta padi Kaubun. Semua komoditas itu, katanya, akan menjadi andalan ekspor baru Kutim bila dikelola melalui kelembagaan koperasi yang kuat.


“Koperasi adalah tulang punggung penguatan ekonomi rakyat. Dengan manajemen profesional, petani tidak berjalan sendiri dan hasilnya bisa masuk rantai pasok global,” tambahnya.


Sementara itu, Direktur Utama Bankaltimtara, Muhammad Yamin, menyatakan pihaknya mendukung penuh upaya tersebut lewat program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) yang diinisiasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, dan Pemkab Kutim. Program itu memfasilitasi akses pembiayaan bagi petani melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).


“Pisang kepok grecek dipilih karena prospeknya cerah untuk ekspor ke Malaysia dan Singapura. Saat ini koperasi sudah membina sekitar 600 petani di Kaliorang, Sangkulirang, dan Kaubun, dengan lahan potensial 250 hektar,” jelas Yamin.


Dengan skema pembiayaan Rp30,2 juta per hektar, Bankaltimtara menanggung hingga 65 persen dari kebutuhan modal tersebut. Diharapkan, model ini mampu menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat ketahanan pangan daerah.


Langkah Kutim ini menandai babak baru pembangunan ekonomi hijau yang berkelanjutan, menjadikan agribisnis sebagai motor utama pertumbuhan di masa depan. (Adv Prokompin Kutim/Sol/Le). 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama