JAKARTA, Prediksi.co.id- Di tengah dunia yang seperti ruang rapat tanpa pendingin—panas, tegang, dan penuh kepentingan—Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen sepanjang 2025. Angka itu, bagi banyak negara, sudah layak dipajang di etalase pencapaian.Namun bagi Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, angka tersebut belum cukup untuk disebut prestasi.
Indonesia tidak boleh puas di angka 5 persen. Bahkan 6 persen pun belum memenuhi ambisi. Target yang harus dikejar berada di kisaran 8 persen—angka yang dianggap lebih realistis untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
Secara struktural, tantangan Indonesia memang tidak sederhana. Pertumbuhan 5 persen menjaga stabilitas, tetapi belum cukup agresif untuk melompatkan produktivitas, mempercepat industrialisasi, dan memperbesar kelas menengah mapan. Dalam kalkulasi makroekonomi, pertumbuhan yang terlalu “aman” berisiko membuat negara bertahan, tetapi tidak berkembang signifikan.
Di sisi lain, Indonesia tengah berada dalam fase bonus demografi. Komposisi penduduk usia produktif lebih besar dibanding usia non-produktif, sebuah momentum yang secara teoritis bisa menjadi mesin akselerasi ekonomi. Namun momentum ini memiliki tenggat waktu. Diperkirakan sekitar 2041–2042, struktur demografi akan mulai berubah. Artinya, jendela peluang tidak terbuka selamanya.Kalau diibaratkan, Indonesia sedang memegang kartu as—tetapi waktu untuk memainkannya terbatas.
Luhut menekankan bahwa pertumbuhan tinggi tidak bisa semata-mata bergantung pada belanja negara. Kontribusi APBN terhadap pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 15–16 persen. Sisanya sangat ditentukan oleh investasi dan aktivitas sektor swasta.Dengan kata lain, mesin utama pertumbuhan ada di tangan investor.
Karena itu, pendekatan yang dibutuhkan bukan sekadar retorika optimisme, melainkan reformasi konkret: penyederhanaan regulasi, kepastian hukum, efisiensi birokrasi, serta penguatan pasar modal. Ia mencontohkan pengalaman India yang berhasil melakukan reformasi pasar modal hingga mendorong lonjakan arus investasi.
Pasar modal yang kredibel bukan hanya soal indeks yang hijau, tetapi tentang kepercayaan. Kepercayaan inilah yang menjadi variabel tak kasatmata namun menentukan keputusan investor menanamkan modal jangka panjang.
Di tengah ketidakpastian global—mulai dari fragmentasi ekonomi hingga tensi geopolitik—Indonesia dinilai memiliki fondasi stabilitas yang relatif baik. Namun stabilitas saja tidak identik dengan akselerasi. Stabil itu penting, tetapi untuk naik kelas dibutuhkan keberanian mengambil langkah reformasi yang lebih dalam.
Secara realistis, pertumbuhan 5,5 persen masih tergolong baik dalam konteks global saat ini. Tetapi jika visi yang dibangun adalah keluar dari jebakan pendapatan menengah dan menjadi negara maju, standar yang digunakan memang harus lebih tinggi.
Ekonomi, pada akhirnya, bukan sekadar tentang bertahan di tengah badai. Ia tentang memanfaatkan angin untuk melaju lebih cepat.Dan dalam logika pembangunan, puas terlalu cepat sering kali menjadi risiko terbesar. (Adl/Le).
Posting Komentar