Tiga Poros Menguat di Bursa Ketua KONI Kaltim, Siapa saja?


ADU STRATEGI: Dari kiri Alwi Al Qadri, Syahariah Mas’ud, , dan Sapto—nama-nama yang mulai menguat dalam bursa kepemimpinan olahraga Kaltim. Masing-masing membawa latar, jejaring, dan visi berbeda tentang masa depan pembinaan atlet serta tata kelola organisasi. (*).



SAMARINDA, Prediksi.co.id – Kontestasi menuju kursi Ketua Umum KONI Kalimantan Timur periode 2026–2030 dipastikan berlangsung kompetitif. Setelah petahana, Rusdiansyah Aras, menyatakan tidak maju kembali, peta persaingan berubah drastis. Sejumlah figur mulai mengambil posisi dan membangun konsolidasi dukungan di tubuh olahraga Kaltim.


Keputusan Rusdiansyah Aras untuk tidak melanjutkan pencalonan dipandang sebagai bentuk tanggung jawab moral atas capaian kontingen Kaltim pada PON XXI Aceh–Sumut yang belum memenuhi target lima besar. Mundurnya sang petahana sekaligus membuka ruang kompetisi yang lebih terbuka bagi tokoh-tokoh olahraga di daerah ini untuk tampil sebagai nahkoda baru.


Sejauh ini, pengamat olahraga menangkap setidaknya tiga nama yang disebut-sebut siap bertarung serius.


Syahariah Mas’ud, kakak Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, yang juga anggota Komisi IV DPRD Kaltim dan politisi Partai Golkar, mulai melakukan pendekatan intensif ke pengurus provinsi cabang olahraga serta KONI kabupaten/kota. Langkah ini dinilai sebagai upaya mengamankan dukungan di tingkat akar struktural olahraga.


Alwi Al Qadri, figur yang dikenal vokal dengan basis massa olahraga cukup kuat di Balikpapan dan PPU, disebut membawa gagasan reformasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan atlet Kaltim. Ia menempatkan pembenahan manajemen dan peningkatan kualitas atlet sebagai agenda prioritas.


Sementara itu, Sapto—politisi muda Golkar yang kini memimpin Pengprov Kuraish Kaltim dan pernah menjadi pengurus KONI Kaltim—muncul sebagai alternatif yang mendapat dorongan dari arus regenerasi. Namanya mencuat sebagai kandidat potensial yang dianggap merepresentasikan semangat pembaruan di tubuh organisasi.


Pergerakan tim pemenangan masing-masing kandidat mulai terlihat di berbagai daerah. Pola komunikasi tidak lagi sekadar pertemuan informal, melainkan sudah mengarah pada konsolidasi dukungan yang lebih terstruktur. Sejumlah cabang olahraga dan KONI kabupaten/kota disebut tengah memetakan figur dengan visi paling realistis untuk mengembalikan daya saing Kaltim di level nasional.


Situasi ini dinilai wajar dalam kontestasi terbuka. Mundurnya petahana menjadikan bursa pemilihan sebagai arena kompetisi yang relatif setara. Para pemilik suara kini berada pada posisi strategis untuk menentukan arah kepemimpinan olahraga Kaltim ke depan.


Siapa pun yang terpilih dalam Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) mendatang akan menghadapi tantangan besar. Selain memulihkan mental dan performa atlet pasca-PON Aceh–Sumut, ketua terpilih dituntut menyusun strategi jangka pendek menuju kualifikasi PON berikutnya, sekaligus membangun tata kelola organisasi yang lebih transparan dan efektif.


Musorprov KONI Kaltim akan menjadi panggung pembuktian, siapa di antara para kandidat yang mampu meyakinkan pemilik suara bahwa mereka memiliki visi, kapasitas manajerial, dan strategi konkret untuk membawa olahraga Kaltim kembali berprestasi. Kontestasi ini bukan semata perebutan jabatan, melainkan pertaruhan arah masa depan olahraga daerah. (Al/Le)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama