Jamas Pusaka Ritual 1 Suro, Tradisi Budaya Jawa Jelang Tahun Baru Islam

Persiapan: Raga Pasti dengan 40an pusaka yang siap di Jamas (Aditya/ Prediksi.co)

Samarinda, Prediksi .co.id- Penetapan satu Suro pada penanggalan Jawa konon untuk memperkenalkan kalender Islam di Tanah Jawa, sebelumnya lazim dengan sistem penanggalan tahun Saka yang diwariskan dari tradisi Hindu. Menariknya pada malam 1 Suro, ada satu tradisi yang sakral dan masih dilakukan sampai saat ini, yakni Jamas Pusaka. 

Untuk mengetahui tradisi ini, Prediksi.co menyambangi salah satu pewaris pusaka yang masih rutin setiap tahunnya melaksanakan ritual jamasan atau mencuci pusaka ini. Tri Gunawan namanya, atau yang lebih dikenal Raga Pati, keturunan asli Banyu Mas, di Lereng Gunung Slamet Jawa Tengah.

Deretan pusaka beralas kain kuning menyambut kami para pewarta, tak kurang dari 43 pusaka siap untuk diritualkan, dicuci, tak asal cuci, semua ada prosesnya, ada anggah angguhnya atau sopan dan santunnya.

"Ini beberapa pusaka yang saya miliki, ada keris, Naga Runting, Lulang Macan, cincin batu akik (tuah), kepompong wesi kuning, taring babi, Trisula Wedha, Payung Nogo, kujang, keris kecil (patrem), batu hitam tuah, telur rajahan, gelang naga, Daun Taguh Sehari (dari kulit, daun, batang). Wayang Rama shinta. Jadi ada banyak, tidak hanya senjata ada beberapa barang unik yang saya koleksi," ungkap Raga Pati dengan baju hitam dan rambut gondrong khasnya.
Hal ini, kata Raga Pati merupakan budaya Jawa turun temurun saat Malam Satu Suro. Dirinya pun memeragakan memegang keris tata cara membuka keris, yakni dari Warangka: sarung keris atau Kumpang dalam istilah tradisi Banjar. 

"Jadi gak sembarangan untuk membuka keris, tata caranya ada. Jadi, bukan kerisnya yang ditarik ke bawah, melainkan Warangkanya yang ditarik ke atas, ini yang tidak banyak orang tahu," jelasnya sambil memperagakan caranya.

Setelah itu, dirinya mencontohkan bagaimana cara jamas atau mencuci pusaka yang telah ia lakoni sejak kecil dan turun temurun dari leluhurnya. Keris yang ia miliki juga punya nama masing-masing, seperti yang ia pegang bernama Eyang Geseng, sebuah pusaka tertua yang diturunkan dari orang tua di garis keluarganya.

"Untuk jamasan kita perlu mempersiapkan medianya, seperti kembang Ketelon (Mawar, Melati, Kenangan), Warangan (cairan racun tikus), jeruk nipis, beras kuning, beras putih, kopi, dan teh,"terang Raga Pasti yang juga merupakan anggota Komunitas Pedang Nabi (KPN) ini.

Dalam proses jamas pusaka, dirinya menjelaskan, juga ada doa khususnya, bahkan dimulai dari menyalakan dupa. Saat membuka pusaka, sebagai penghormatan biasanya keris ditempel ke dahi.

"Ingat ini bukan menyembah, hanya bentuk penghormatan, ini yang harus diketahui, semua ada makna filosofisnya," ujarnya.

Setiap pusaka, diyakini memiliki "orangnya", sehingga ketika ingin dicuci menggunakan jeruk nipis, sang pemilik akan mempersilahkan "orang" yang di dalam untuk keluar terlebih dahulu, ketika sudah kering, maka akan dipersilahkan masuk kembali.

Jamasan ini bertujuan untuk merumat (merawat), menjaga benda pusaka yang turun temurun ini agar tidak rusak dan hilang dimakan zaman. Bahkan, memiliki filosifi membersihkan diri dengan berdoa dan mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.

"Dalam tradisi, kami biasanya memulai jamasan ini setelah Maghrib, prosesinya akan berbeda tiap orang, semakin banyak pusakanya jadi semakin lama, kalau saya, dengan 40 an pusaka seperti ini, kurang lebih satu jam baru selesai," tuturnya. (Di/Le)



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama