Samarinda, Prediksi.co.id- Pagi itu, Samarinda masih berkabut tipis. Matahari baru merayap dari balik atap seng. Tapi Gang 10 Jalan Biawan sudah ramai. Warga Kelurahan Sidomulyo berderet di jalan sempit itu. Ada yang datang sambil mengusap keringat, ada yang dituntun cucunya.
Yang dicari? Bukan sembako. Bukan juga bantuan uang tunai. Mereka datang untuk sesuatu yang sering dianggap mahal: kesehatan.
Cukup dengan KTP, warga bisa memeriksakan tekanan darah, gula, kolesterol, bahkan asam urat. Gratis. Obat dan vitamin pun dibawa pulang. Bahkan kalau perlu rujukan ke rumah sakit, sudah disiapkan.
“Alhamdulillah ada begini,” ujar Siti, nenek 62 tahun, yang tiba lebih awal dari ayam berkokok. “Kalau ke rumah sakit, ongkos dulu. Belum antre.” Ia tersenyum. Senyum yang terlihat tulus, meski giginya sudah banyak yang tinggal kenangan.
Tiga hari penuh, 19–21 Agustus, Sidomulyo jadi semacam rumah sakit berjalan. Universitas Islam Malang (UNISMA) membawa 60 tenaga kesehatan ke Samarinda. Mahasiswa kedokteran, dokter umum, spesialis penyakit dalam, sampai dokter THT. Dibantu pula mahasiswa Universitas Mulawarman dan senat farmasi Kaltim.
Di tengah kerumunan, seorang bapak berbaju batik tampak sibuk menyapa warga. Supianto namanya. Direktur PT Lintas Mahakam Abadi itu bukan dokter. Tapi justru dialah motor kegiatan ini.
Alasannya sederhana. Putrinya kuliah di Fakultas Kedokteran UNISMA. Dari situ ia melihat semangat mahasiswa belajar—dan ingin memberi ruang nyata bagi mereka untuk mengabdi. Maka lahirlah ide: klinik gratis di Sidomulyo.
“Warga banyak yang berisiko hipertensi dan diabetes,” kata Yoyon Arif Martino, penanggung jawab tim kesehatan. “Jadi ini bukan sekadar pemeriksaan. Kami juga beri edukasi, agar mereka bisa lebih menjaga diri.”
Benar saja. Di setiap meja, mahasiswa sibuk menjelaskan angka-angka di hasil pemeriksaan. Tentang bahaya gula darah yang tinggi, tentang pola makan, tentang pentingnya olahraga. Tidak dengan bahasa rumit, tapi dengan gaya bertutur khas anak muda.
Yang menarik, kegiatan ini bukan sekadar pengobatan massal. Bagi warga, ini jadi ajang silaturahmi. Ada yang datang bareng tetangga, ada yang menunggu sambil bercanda. Anak-anak berlarian, orang tua saling menyapa.
Di sudut ruangan, seorang nenek tertawa keras saat tahu kolesterolnya “aman”. Di meja lain, seorang kakek mengangkat kedua jempol setelah dicek gula darahnya normal. Senyum itu menular.
Samarinda sore itu seolah lebih ringan. Bukan karena penyakit mereka hilang seketika. Tapi karena ada perhatian yang tulus. Ada mahasiswa yang mau mendengar keluhan. Ada dokter yang mau menjelaskan dengan sabar. Ada perusahaan yang mau berbagi. (Di/Les).
Posting Komentar